Monday, January 19, 2009

BAHASA &SASTRA INDONESIA:
Jurnal ISSN: 0852-654
AbstrakTahun 5, Nomor 2, November 1999
Elipsis sebagai Alat Kohesi dalam Wacana Bahasa Indonesia (Bustanul Arifin, Universitas Negeri Malang) Abstract: Wacana dapat didefinisikan sebagai seperangkat kalimat yang memiliki pertalian semantik (semantic coherrence). Karena pertalian semantiknya, seperangkat kalimat itu diterima oleh pemakai bahasa sebagai suatu ‘keseluruhan yang relatif lengkap’. Untuk mencapai koherensi dalam wacana pemakai bahasa dapat memakai sejumlah strategi, antara lain strategi pempronominalan, pengulangan + itu, penyulihan, pemakaian konjungsi, dan elipsis. Tulisan ini secara khusus membahas pemakaian alat kohesi elipsis untuk mencapai koherensi wacana dalam bahasa Indonesia. Ada empat macam bentuk elipsis sebagai alat kohesi dalam wacana bahasa Indonesia, yaitu: (1) elipsis normal, (2) elipsis verbal, (3) elipsis klausal, dan (4) elipsis tataran lain. Kajian ini dilakukan dalam rangka mendeskripsikan kaidah wacana bahasa Indonesia yang hasilnya diharapkan dapat dipakai sebagai pedoman bagi pemakai bahasa Indonesia agar mereka dapat berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Perbandingan Reduplikasi Bahasa Indonesia dan Reduplikasi Bahasa Jawa (Soedjito, Universitas Negeri Malang) Abstract: Bentuk reduplikasi baik dalam bahasa Indonesia maupun dalam bahasa Jawa dapat diperinci menjadi empat macam, yaitu (1) reduplikasi utuh, (2) reduplikasi sebagian, (3) reduplikasi salin suara, dan (4) reduplikasi berkombinasi dengan afiksasi. Hubungan genetis antara bahasa Indonesia dan bahasa Jawa dapat meyebabkan terjadinya interferensi. Dalam hal ini interferensi reduplikasi dari bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia tampak produktif, sedangkan interferensi reduplikasi bahasa Indonesia ke dalam bahasa Jawa tidak produktif. Interferensi reduplikasi tersebut tampak pada tipe sesepuh (dwipurwa), tipe gembar-gembor (dwilingga salin suara), dan tipe cubit-cubitan (reduplikasi berkombinasi dengan afiksasi). Selain itu, antara bahasa Indonesia dan bahasa Jawa terdapat bentuk berpadanan ( » ), misalnya reduplikasi tipe menolong-nolong » nulung-nulung, tolong-menolong » tulung-tinulung, bertolong-tolongan » tulung-tulungan. Selanjutnya, jika reduplikasi bahasa Jawa tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia, makna gramatikalnya dapat dijelaskan dengan parafrasenya, misalnya nulung-nulung (salin suara) ‘lagi-lagi menolong’, nenulung (dwipurwa) ‘menolong siapa saja’.

Bahasa Pengajaran Bahasa Indonesia untuk Sekolah Menengah Umum dalam Kurikulum 1994 (Ahmad Rofi’uddin, Universitas Negeri Malang) Abstract: Berdasarkan mendasarkan diri pada tujuan, bahan pengajaran BI di Sekolah Menengah Umum dapat dibedakan menjadi 3 macam: kebahasaan (termasuk kesastraan), pemahaman, dan penggunaan. Bahan pengajaran kebahasaan dimanfaatkan untuk kepentingan pemahaman (menyimak dan membaca) dan penggunaan (berbicara dan menulis). Ketiga komponen bahan pengajaran digunakan untuk menumbuhkembangkan kemahiran siswa dalam meyerap dan menyampaikan gagasan, pendapat, pengalaman, pesan dan perasaan yang disampaikan dalam bentuk lisan maupun tulisan. Bahan pengajaran diorganisir dalam satu kesatuan dengan menggunakan alat pengikat yang berupa tema. Sumber bahan pengajaran dapat berupa: buku, media cetak, media elektronik, lingkungan, narasumber, dan hasil karya siswa. Tidak dicantumkannya bahan pengajaran secara mandiri dimaksudkan agar mendorong pemakai kurikulum untuk mengembangkan bahan.

Pengembangan Model Tes dan Sistem Pengujian dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia (Suyono, Universitas Negeri Malang) Abstract: Tes dan sistem pengujian seharusnya ditempatkan sebagai bagian pendidikan, bukan sekedar bagian pengajaran. Sebagai bagian pendidikan, tes dan sistem pengujian hendaknya dapat menanamkan nilai-nilai positif pada diri siswa, di antaranya cara belajar yang benar, pentingnya kegemaran membaca, dan pengutamaan berpikir, bukan menghafal dan mengingat informasi, fakta, konsep dan teori. Pandangan itu berimplikasi pada isi tes, ragam (bentuk) tes, cara pelaksanaan tes, dan penentuan nilai akhir yang dicapai siswa. Atas dasar pandangan di atas, pembaruan tes dan sistem pengujian menjadi penting dan karenanya mendesak untuk dilakukan. Untuk itu, penulis mengawalinya dengan melontarkan gagasan ini. Terkait dengan pembaruan tes, sekurang-kurangnya ditawarkan tujuh model tes, yakni model tes yang bertumpu pada wacana tulis, bertumpu pada wacana lisan, bertumpu pada informasi, data, fakta, dan temuan penelitian, bertumpu pada gambar, tanda, simbol dengan segala variasinya, bertumpu pada bagan, skema, dan media visual sejenisnya, bertumpu pada gabungan dua atau lebih tumpuan-tumpuan di atas, dan tanpa tumpuan (bahan bertolak tidak disediakan). Sementara itu, terkait dengan sistem pengujian ditawarkan perlunya pemberian bobot yang lebih tinggi terhadap partisipasi aktif dalam pembelajaran, hasil-hasil tes harian, dan tugas-tugas harian daripada hasil tes akhir (cawu/semester). Untuk itu, dibutuhkan rumus tertentu yang memberi bobot tinggi terhadap kinerja siswa selama proses pembelajaran berlangsung.

Legenda Tumenggung Surontani ditinjau dari Tema dan Makna Cerita (Dwi Sulistyorini, Universitas Negeri Malang) Abstract: Folklor merupakan salah satu bentuk budaya nasional yang sarat akan nilai. Legenda Tumenggung Surontani merupakan salah satu bentuk folklor yang masih hidup di tengah-tengah masyarakat yang di dalamnya terkandung nilai-nilai pendidikan. Sampai saat ini, masyarakat pemilik folklor masih mempercayai legenda tersebut.

Unsur-unsur Sosiologis dalam Cerpen-cerpen Leila S. Chudlori (Muakibatul Hasanah dan Wahyudi Siswanto, Universitas Negeri Malang) Abstract: Pada kajian yang berjudul “Analisis Unsur-unsur Sosiologis dalam Cerpen-cerpen Leila S. Chudlori” ini dicoba diungkapkan kenyataan sosial dengan bertitik tolak dari pandangan sosiologi sastra. Selain merupakan analisis aplikatif dari pendekatan sosiologi sastra, kajian ini dimaksudkan untuk menemukan pola-pola kehidupan sosial yang khas yang teridentifikasi pada saat analisis terhadap kelima cerpen Leila S. Chudlori dilakukan. Berdasarkan hasil analisis ditemukan bahwa unsur kehidupan sosial yang tercermin dalam kelima cerpen Leila S. Chudlori yanmg dijadikan sasaran kajian ini cukup kuat. Dari kelima cerpen tersebut, tiga di antaranya memiliki kadar kehidupan sosial yang kuat. Ketiga cerpen yang dimaksud adalah cerpen TK, Pulang dari Amerika (PDA), dan Sehelai Pakaian Hitam (SPH).

Buku Bacaan Inpres SD sebagai Bahan Pengajaran Apresiasi Sastra di Sekolah Dasar (Taufik Dermawan, Universitas Negeri Malang) Abstract: Buku bacaan yang diterbitkan oleh Depdikbud melalui Proyek Inpres dan kemudian didistibusikan ke SD-SD di seluruh pelosok nusantara ada dua jenis, yaitu fiksi dan nonfiksi. Sejauh ini buku-buku fiksi tersebut belum pernah diteliti. Penelitian ini bertujuan memperoleh deskripsi tentang minat baca siswa terhadap bacaan fiksi, ciri-ciri umum bacaan fiksi, dan pemanfaatan bacaan fiksi tersebut sebagai bahan pengajaran apresiasi sastra di SD. Berdasarkan temuan penelitian dapat diketahui bahwa siswa SD mempunyai minat yang cukup baik terhadap bacaan fiksi, tetapi sayang penggarapan ceritanya kurang menarik, dan buku-buku tersebut belum optimal sebagai bahan pengajaran apresiasi sastra.
AbstrakTahun 10, Nomor 1, Februari 2004

Bahasa Madura di Kecamatan Gondanglegi Kabupaten Malang: Kajian Sosiolinguistik tentang Pemertahanan Bahasa (Bustanul Arifin, Universitas Negeri Malang) Abstract: Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan berbagai faktor internal yang menyebabkan pemertahanan bahasa Madura dan mengungkapkan ranah-ranah (domains) pemakaian bahasa Madura oleh masyarakat penutur bahasa Madura di wilayah Kecamatan Gondanglegi. Subjek penelitian dipilh dengan memperhatikan variablel umur dan bahasa ibu yang dikuasai mereka. Berdasarkan variabel umur, subjek penelitian dipilah menjadi dua, yaitu subjek generasi tua (30 tahun-70 tahun) atau sudah menikah dan generasi muda (12 tahun-29 tahun) dan belum menikah. Subjek penelitian berbahasa ibu bahasa Madura. Data penelitian dijaring dengan angket yang berisi pertanyaan berkenaan dengan faktor-faktor pemertahanan bahasa dan ranah-ranah pemakaian bahasa Madura. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada tiga faktor internal pemertahanan bahasa, yaitu: (1) tindak kesinambungan pengalihan bahasa ibu oleh generasi tua kepada generasi muda; (2) loyalitas terhadap bahasa ibu; dan (3) sikap positif generasi muda etnis Madura terhadap bahasa ibunya.

Intervensi Pemerintah terhadap Kebebasan Pers dan Munculnya Eufemisme (Moch. Syahri, Universitas Negeri Malang) Abstract: Berita merupakan rekonstruksi tertulis dari sebuah fakta. Sebagaimana sebuah rekonstruksi, fakta harus disampaikan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Untuk itu, bahasa mempunyai peranan penting. Penggunaan bahasa yang baik oleh wartawan menentukan rekonstruksi sebuah fakta. Tetapi pada kenyataannya tidak demikian, intervensi pemerintah ikut menentukan (sensor) fakta yang akan disampaikan. Agar fakta yang akan disampaikan lolos sensor, maka wartawan menggunakan bahasa penghalusan (eufimisme) dalam menulis berita. Konsekuensinya, makna kejadian yang dimuat menjadi kabur.

Folklor Jawa Timur sebagai Bahan Apresiasi Siswa Sekolah Dasar (Maryaeni, Universitas Negeri Malang) Abstract: Secara etimologi, kata folklor terdiri atas kata folk dan lore. Folk adalah masyarakat pemilik suatu kebudayaan tertentu, sedangkan lore adalah suatu kebudayaan, tradisi, dan kesenian yang dimiliki oleh kolektif tertentu. Folklor dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu folklor lisan, sebagian lisan, dan bukan lisan. Ketiga bentuk folklor tersebut belum tergali sepenuhnya di tanah air tercinta ini. Oleh karena itu, apabila keunikan-keunikan tertentu. Lebih-lebih bila dikaitkan dengan pendayagunaan ketiga folklor dalam bidang pendidikan, khususnya sebagai bahan ajar.

Relativitas Citra Wanita dalam Puisi: Kajian berdasarkan Hipotesis Sapir-Whorf (Yuni Pratiwi, Universitas Negeri Malang) Abstract: Peran-peran sosial wanita dalam kehidupan nyata mereka menjadi sumber inspirasi penyair dalam menuliskan puisi-puisinya. Interpretasi penyair terhadap kenyataan ini dipengaruhi keragaman pengalaman hidup dan latar belakang budaya penyair, keragaman perspektif penyair dalam menginterpretasikan fakta kehidupan dan kreativitas bahasa sebagai sarana ekspresi yang berbeda. Dalam teks puisi, relativitas citra wanita tersebut antara lain dapat diketahui dari diksi, figurasi bahasa, yang berwujud gaya bahasa, dan simbol-simbol yang digunakan penyair. Hal ini sesuai dengan hipotesis Sapir-Whorf yang menyatakan bahwa manusia membentuk persepsinya terhadap realita dan sebenarnya dunia merupakan konstruksi bahasa.

Tema Kematian dalam Karya Sastra Budi Darma (Wahyudi Siswanto, Universitas Negeri Malang) Abstract: Kematian merupakan peristiwa yang tidak dapat dihindari manusia. Banyak karya sastra Budi Darma bertemakan kematian. Tema ini dijabarkan dalam bentuk (1) kematian tokoh, (2) iring-iringan jenazah, (3) situasi di sekitar kematian atau penguburan, (4) bayangan orang yang sudah meninggal dunia, dan (5) bayangan atau simbol kematian. Persoalan kematian ini ternyata erat kaitannya dengan pengalaman, pandangan, dan perkembangan diri Budi Darma.

Sosok, Peran, dan Sumbangan Wanita Cerpenis Indonesia dalam Perkembangan Cerpen Indonesia (Siti Cholisotul Hamidah, Universitas Negeri Malang) Abstract: Wanita cerpenis Indonesia sudah relatif lama berpartisipasi dalam perkembangan cerpen Indonesia. Wanita cerpenis Indonesia merupakan orang-orang terdidik, terpelajar, dan berpendidikan tinggi pada masanya. Mereka bekerja di berbagai bidang, antara lain sastrawan-sastrawan, dosen, wartawan, penulis, pekerja sosial, dan ibu rumah tangga. Merek memiliki peran yang sangat berarti yang hal ini tampak dari keberadaan, kedudukan, intensitas, kreativitas, produktivitas, dan prestasi mereka. Demikian pula sumbangan yang diberikan dalam perkembangan cerpen Indonesia sangat bermakna yang hal ini tampak dari jumlah karya mereka yang cukup banyak, karakteristik karya mereka yang terlihat pada tema, amanat, estetika, dan keunikan serta kepopulerannya.

Alternatif Model Pembelajaran Menulis Permulaan (Nurchasanah, Universitas Negeri Malang) Abstract: Tahap awal pembelajaran bahasa Indonesia di Sekolah Dasar kelas awal (kelas I dan II) menekankan pada kegiatan membaca dan menulis permulaan. Khusus pembelajaran menulis permulaan, ditekankan pada proses pembelajaran menulis huruf sampai pada proses pembelajaran mengarang sederhana. Untuk mencapai kemampuan menulis diperlukan banyak berlatih. Latihan-latihan menulis yang tepat dan bervariasi akan mempermudah siswa untuk belajar bahasa dan sekaligus besar pengaruhnya terhadap proses pembelajaran mata pelajaran lain. Oleh karena itu, peranan guru dan kreativitasnya dalam membelajarkan siswa menentukan juga keberhasilan siswa dalam belajar bahasa.

Pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Model Tutorial (Widodo Hs., Universitas Negeri Malang) Abstract: Pembelajaran BIPA Model Tutorial merupakan perwujudan dari prinsip pembelajaran BIPA yang memiliki karakteristik spesifik, yaitu menekankan pada mekanisme tutorial. Model ini mencoba memerankan dan memberdayakan sejumlah aspek signifikan dalam pembelajaran BIPA secara optimal. Aspek pembelajaran yang dimaksud antara lain: (1) latar belakang pembelajar, (2) motivasi pembelajar, (3) elaborasi materi, (4) kolaborasi kegiatan belajar, (5) pajanan berbahasa, (6) kondisi bahasa dan penggunaannya, dan (7) lingkungan-budaya. Berbagai aspek tersebut merupakan variabel yang harus diakomodasikan dan diaktualisasikan secara fungsional serta proporsional. Kegiatan pembelajaran tersebut dipadukan dengan pengembangan aktivitas komplementer di luar kelas yang mengarah pada aplikasi praktis berbahasa Indonesia secara alamiah dan aktual.

Karakteristik Kurikulum 2004 dan Pendekatan Kompetensi (Mata Pelajaran Bahasa Indonesia) (Sunoto, Universitas Negeri Malang) Abstract: Pembaruan kurikulum terus dilakukan oleh pembuat kebijakan pendidikan sebagai salah satu pilihan usaha meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran. Empat isu pokok yakni: penerapan hak azasi, kehidupan berdemokrasi, globalisasi, dan otonomi daerah diangkat sebagai dasar pertimbangan pengembangan Kurikulum 2004. Pendekatan kompetensi dan pendekatan kinerja dipilih karena memiliki karakteristik cocok dengan isu tersebut. Pendekatan kompetensi berusaha mengungkap sistem kaidah dan norma rasional yang memungkinkan dihasilkan aktivitas-aktivitas simbolis bermakna dan produk-produknya, sedangkan pada sisi lain, pendekatan kinerja berusaha memanfaatkan atau menggunakan pra anggapan teori kompetensi tersebut secara khusus untuk menjelaskan apa yang paling cocok dikerjakan subjek agar dapat berkinerja sebagaimana yang diharapkan.
Pengantar Rektor Informasi Umum Program Pendidikan Program Studi Kalender Akademik Penelitian Pengabdian Masyarakat Kemahasiswaan Perpustakaan Sarana dan Prasarana Acara dan Kegiatan Apa yang Baru Mailing List